Mana yang Kau Mau, Pasar yang Tradisional ataukah Modern??….

Di dunia ini, banyak sekali jenis – jenis yang membedakan sesuatu karena ciri atau karena temapat atau waktu terbuatnya sesuatu. Contohnya saja Pasar, pasar sendiri terbagi menjadi dua, yaitu pasar tradisional dan pasar modern. Walaupun terdapat satu perbedaan yang mudah dimengerti atau sehingga orang mudha membedakannya yaitu pasar modern seperti pasar di kota dan pasar tradisional seperti pasar di desa – desa yang masih tradisional, tetapi kedua jenis ini memiliki perbedaan yang lain. Agar lebih jelas, maka akan saya beri contoh mengenai pasar tradisional dan modern. Saya beri contoh yang tradisional adalah Pasar Tradisional Beringharjo dan yang modern adalah Kawasan Superblok Nagoya. Berikut penjelasan kedua pasar tersebut.

Kawasan Superblok Nagoya yang terletak di Jalan Sudirman dan Jalan Yos Sudarso, Tanjung Uma, Kecamatan Jodoh, Kota Batam, ini memang dikenal sebagai tempat yang dapat memuaskan hasrat berbelanja Di tempat ini, Anda akan menjumpai berbagai gerai mulai dari fashion, elektronik, dan keperluan rumah tangga yang ditawarkan dengan harga kompetitif. Selain itu, juga terdapat jajaran rumah makan, kedai, dan kafe, juga tempat hiburan malam.

Bangunan di Superblok Nagoya beragam, ada yang mengusung budaya Barat, klasik, atau Asia. Di salah satu sudut pertokoan terdapat bangunan yang menyerupai konstruksi bangunan Crystal Palace di Hyde Park, London, Inggris pada akhir abad ke-19 sebagai wahana pameran industri (Great Exhibition) terbesar di dunia ketika itu. Sedangkan untuk struktur bangunannya dikreasi dengan konsep bangunan bergaya klasik di mana terdapat tiang-tiang yang menjulang tinggi serta beratap cekung yang diselimuti dengan viberglass sehingga cahaya matahari akan masuk menerangi sepanjang lorong superblok ini.

Di pusat perbelanjaan modern ini, Anda tidak akan secara menyeluruh dibawa ke dalam imajinasi kultur belanja Barat. Karena, kawasan Nagoya juga menyesuaikan diri dengan suasana momen-momen lokal. Pada saat hari raya akan banyak hadir di sana hiasan-hiasan khas hari raya, seperti ketupat ketika Lebaran, pohon cemara dengan asesorinya saat Natal tiba, dan juga lampion-lampion serta dominasi warna merah tatkala Imlek.

Kawasan Superblok Nagoya akan memuaskan peminat wisata belanja karena terdapat sekitar 450 kios dan lebih dari 170 rumah toko (ruko) dengan fasilitas terbaru. Seperti misalnya fasilitas hipermarket di Nagoya Hill. Faktor lain yang menjadi daya tarik suatu mal tentu keunikan yang diciptakan. Keunikan di kawasan ini berupa superblok dengan konsep city walk, atau biasa disebut dengan modern walking culture, yakni pengunjung diharapkan berjalan kaki untuk mengelilingi lokasi ini sekaligus melakukan berbagai aktivitas, seperti wisata kuliner jalanan (food street) dan wisata belanja (shopping street).

Berbeda dengan Nagoya, Pasar yang menjadi contoh Pasar Tradisional yaitu Pasar Beringharjo telah menjadi pusat kegiatan ekonomi selama ratusan tahun dan keberadaannya mempunyai makna filosofis. Pasar yang telah berkali-kali dipugar ini melambangkan satu tahapan kehidupan manusia yang masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan ekonominya. Selain itu, Beringharjo juga merupakan salah satu pilar ‘Catur Tunggal’ (terdiri dari Kraton, Alun-Alun Utara, Kraton, dan Pasar Beringharjo) yang melambangkan fungsi ekonomi.

Wilayah Pasar Beringharjo mulanya merupakan hutan beringin. Tak lama setelah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tepatnya tahun 1758, wilayah pasar ini dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya. Ratusan tahun kemudian, pada tahun 1925, barulah tempat transaksi ekonomi ini memiliki sebuah bangunan permanen. Nama ‘Beringharjo’ sendiri diberikan oleh Hamengku Buwono IX, artinya wilayah yang semula pohon beringin (bering) diharapkan dapat memberikan kesejahteraan (harjo). Kini, para wisatawan memaknai pasar ini sebagai tempat belanja yang menyenangkan.

Bagian depan dan belakang bangunan pasar sebelah barat merupakan tempat yang tepat untuk memanjakan lidah dengan jajanan pasar. Di sebelah utara bagian depan, dapat dijumpai brem bulat dengan tekstur lebih lembut dari brem Madiun dan krasikan (semacam dodol dari tepung beras, gula jawa, dan hancuran wijen). Di sebelah selatan, dapat ditemui bakpia isi kacang hijau yang biasa dijual masih hangat dan kue basah seperti hung kwe dan nagasari. Sementara bagian belakang umumnya menjual panganan yang tahan lama seperti ting-ting yang terbuat dari karamel yang dicampur kacang. Pasar ini juga tempat yang tepat untuk berburu barang antik. Sentra penjualan barang antik terdapat di lantai 3 pasar bagian timur. Di tempat itu, anda bisa mendapati mesin ketik tua, helm buatan tahun 60-an yang bagian depannya memiliki mika sebatas hidung dan sebagainya. Di lantai itu pula, anda dapat memburu barang bekas berkualitas bila mau. Berbagai macam barang bekas impor seperti sepatu, tas, bahkan pakaian dijual dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga aslinya dengan kualitas yang masih baik. Tentu butuh kejelian dalam memilih.

Meski pasar ini resmi tutup pukul 17.00 WIB, tetapi proses jualan pedagang tidak berhenti pada jam itu. Bagian depan pasar masih menawarkan berbagai macam panganan khas. Martabak dengan berbagai isinya, terang bulan yang legit bercampur coklat dan kacang, serta klepon isi gula jawa yang lezat bisa dibeli setiap sorenya. Sekitar pukul 18.00 WIB hingga lewat tengah malam, biasanya terdapat penjual gudeg di depan pasar yang juga menawarkan kikil dan varian oseng-oseng. Sambil makan, anda bisa mendengarkan musik tradisional Jawa yang diputar atau bercakap dengan penjual yang biasanya menyapa dengan akrab. Lengkap sudah Pasar Tradisional Beringharjo ini…..

Dengan melihat perbedaan kedua jenis pasar tersebut melalui contoh, pasti sudah tahu perbedaannya kan??… Jadi, mau pilih pasar yang mana????…. Tinggal Pilih….

SUMBER :

http://www.obrolin.com/showthread.php?t=31693

http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/market/beringharjo/

SEBELUMNYA MAAF, JIKA DATA DARI SUMBER BANYAK YANG BELUM DI EDIT… THANK’S…

8 Comments »

  1. ryfa Said:

    pilih yang barangnya bagus dan harga terjangkau..hihihi:D

  2. v3maximillion Said:

    Uhmm
    Pilh yg mana ya??
    Bgi org2 yg ska blanja kdua psar td pasti myenangkan utk dtlusuri. Keunikan di tiap psar jga ada, jdi ya UP 2 U aja dah!!
    Hehehee

    • piwda17 Said:

      yang tradisional aja fit, kan deket tuh Beringharjo, wkwk ee… sekalian ke Malioboro… hehe…

  3. tehmanisenak Said:

    aku mau sedkit bertanya.. dari mana ada patokan klo pasar tradisional itu cuma ada di desa n dikota adanya pasar modern??
    hmm.. menurut ku enggak juga, soalnya di kota pun ada pasar tradisional, ada juga pasar modern… sama jg kya di desa, skrg udh bnyk kan desa2 yg udh punya ruko2 “alfamart”, “indomart” .. dsb,
    sipp.. blog’a.. terus menulis. karena titik bukan akhir. tapi awal untuk menulis lagi😀

    • piwda17 Said:

      begini mba dian yg saya hormati… (jane sek biyoso ae, wkwkwk) mengenai saya memberi tahu kalo yang tradisional desa dan modern kota, itu agar yang baca langsung mengerti kalo yang modern ya modern seperti di alfamart, indomart, dsb. dan untuk yang tradisional seperti yang didesa, yg pasar masih pake getek, pring, sederhana, dll… gitu…
      trima kasih komentarnya neng… laen kali komen lagi… trims….

  4. piwda17 Said:

    jan… pada komen… sih lah… wkwkwk….

  5. perespersik Said:

    tar log yg tradisional ilang ak mo jualan dmn???
    log dmodern bayarnya mahal. haaa


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: